Merdeka di Darat

Kemarin adalah kali ketiga saya bertemu teman sesama blogger. Senang, riang. Haha… kaya Sherina.

Kali pertama adalah ketika Indra menikah. Saya hanya tahu Indra dari foto yang kecil mungil di blognya (sekarang sudah agak jelas, berdua istri pula). Untung pengantin selalu bersanding di tempat khusus, jadi saya tidak celingukan hihihi…

Tak lupa, di buku tamu saya menuliskan 'http://lita.inirumahku.com' di kolom alamat. Satu-satunya cara yang tidak akan membuat kening Indra berkerut karena berusaha keras mengingat-ingat temannya yang mana yang bernama Lita Mariana.

Kali kedua adalah saat bertemu mbak Eka. Sebenarnya sudah lama kami ingin bertemu. Sayang waktu yang pas tak kunjung ketemu, sampai akhirnya si mbak protes. "Besok!", begitu mbak Eka dengan baik hati menelepon saya.

Bayangkan, beliau yang mau mentraktir saya, beliau juga yang mendesak-desak supaya saya memutuskan waktu bertemu. Durhaka bener saya sama orang yang lebih tua Tongue out Terimakasih traktirannya ya, mbak. Ngga kapok deh :mrgreen:

Kali ketiga giliran Merdeka. Akhirnya kru Merdeka bisa bertemu di luar Yahoo! Messenger! Senangnya saya.

Saya hanya punya waktu 2 hari untuk menimbang tempat dan menghubungi anggota Merdeka yang tinggal di Jakarta. SMS sana-sini, beberapa kali me- dan di-telepon, untunglah tak ada halangan dan kopdar digelar dengan mulus.

Jadi, siapa saja yang saya temui? Berikut ini, dalam urutan alfabetis.

Andry. Tentu saja. Dia pula yang menodong saya jadi koordinator. Datang paling awal, akhirnya kita ketemu juga ya, Ndry :) Sesuai dengan yang dikatakannya, dia memang kurus.

Deny. Datang di urutan kedua. Lho, kurus. Kok rada beda dari yang di foto, Den? Yang pasti, bapak ini kelihatan malu-malu. Katanya sih malu difoto, tapi toh ngga sampe ngumpet waktu dipotret hihihi…

Gage. "Ooo…". Hanya begitu reaksi saya. Saya hanya mengenal Gage dari tulisannya di milis Merdeka. "Update, Ge!", kata Deny. Dan saya nyengir doang. Gimana, Ge? :)

Hedi. "Waduh saya dipanggil Om", katanya mengomentari undangan saya via email. Hehe, yang lebih tua dari saya biasanya memang saya panggil om. Om-nya Ibrahim dan Daud :mrgreen: Kurus juga.

Hericz. Teman lama, sudah lama juga tak bersua. Kangenku padamu kini kandas. Kamu kangen aku juga, kan? Hihihi…

Herry, saya, dan suami saya satu klub ekskul semasa kuliah dulu. Kriwilmu ngga berubah walau sudah dipotong pendek, Her. Dan tentu saja, Herry selalu kurus. Dulu sampai sekarang. Entah ya kalau sudah menikah :mrgreen:

Tak disangka pula, Daud yang biasanya tak suka beramah-tamah dengan orang yang baru ditemui, kemarin malah mau digendong Herry. Sampai ketawa-ketawa pula! Dan Herry berbaik hati pula 'mengasuh' Daud sehingga diriku sempat makan kemarin (Sudah biasa. Nasib emak; makan di waktu sela mengasuh).

Nikk. Tulisannya sangar, ternyata orangnya murah senyum. Dan… ya ampun, Nikk, ternyata kau dulu sobatan dengan suamiku?! "What a daun kelor!", kata Nikk menjawab pesan singkat saya sepulang dari kopdar kemarin. Hehe… jadi selama ini ngapain aja kita sampe ngga nyadar? (kita = Nikk, saya, dan suami)

Pakde Tyo. Iya, saya memanggilnya pakde. Jelas usianya beda jauh dengan saya, tapi saya memanggil beliau pakde lebih karena hormat. Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan sang punggawa yang mahir mengolah kata.

Kehadiran pakde Tyo sangat membantu kami, karena beliau satu-satunya yang membawa kamera digital! :mrgreen: Doh… gimana seh kelean! Herry yang suka motret beralasan kameranya sudah sampai Papua. *Maksudmu, Her? Aku gak ngerti*

Pitra. Ah, dari bincang di Y!M barulah saya tahu bahwa kami satu almamater. Yak ampun… kebangetannya diriku! (maap, om!) Selain tinggi, berkacamata, om Pitra juga… kurus!

Hah, ternyata blogger Merdeka mayoritas kurus-kurus ya! Kata om Hedi, "Ya jelas aja kurus. Tiap hari 20 jam di depan monitor, kok!". Hehe… bukannya malah gemuk ya? Karena kurang gerak, begitu?

Sayang pakde pecasndahe batal datang. Padahal beliau yang menyemangati saya untuk mengganti tempat pertemuan (Hayo, tanggung jawab pakde! Jadi EO di kopdar berikutnya, ya!).

Pakde yang sayang anak ini (emang ada orangtua yang gak sayang anak?) baru selesai kencan dengan keluarganya jam 19.30. Terlalu malam untuk menyusul kami. Ngga papa, pakde. Lain kali bisa ketemu, insya Allah.

Ngomongin apa kemarin? Apa aja. Asal bukan internet dan blog. Maunya. "Emang bisa?", toh kejadian juga, seperti yang sudah diduga sang penulis pengumuman sekaligus pelaku :mrgreen:

Biarpun capek (tentu saja! Herry mengeluh, "Anakmu berat yo, mbak", yang saya sambut dengan cengiran, "Baru tahu kamu" hehe…) dan ngantuk (selain karena capek, juga karena sudah malam), saya benar-benar senang (juga kenyang). Tak terasa canggungnya. Apalagi kaku. Seolah dari tulisan mereka, saya benar-benar berhadapan dan mengenal langsung.

Terimakasih atas malam yang menyenangkan, teman-teman. Kapan-kapan lagi ya. Tapi jangan malem-malem…