Merkurius Nyasar

Niat hati mau istirahat sebentar. Makan siang sambil nonton TV ternyata bukan pilihan bijaksana. Amat langka momen saya menonton sinetron. Dan apesnya tiap kali kebetulan kebagian nonton sinetron (karena sedang pindah-pindah kanal) ada saja yang membuat saya sedih.

Sedih karena kasihan. Kasihan pada yang tidak mengerti. Tidak mengerti bahwa apa yang dikatakan di dialog sinetron itu tidak benar. Saya tidak bicara moral. Dan saya jelas bukan kritikus film atau media yang mumpuni. Karena itu saya biasanya ngrasani bagian yang saya tahu (pasti salah) saja.

Satu adegan di laboratorium. Meja panjang dengan tabung-tabung reaksi dan mikroskop. Tentu saja ada labu takar dan gelas ukur juga, setidaknya di sinetron. "Nah, ini air raksa. H2SO4," kata salah satu tokoh utama sambil mengacungkan labu berisi larutan jernih. WHAT? Alis saya langsung naik. Kedekatan yang mustahil. Yang satu logam, satunya lagi asam.

Adegan di kelas. "Gue tadi liat di tangannya ada merkurius," jawab si tokoh utama. Alis saya naik lagi. HAH? Jagoan mana yang bisa megang planet di tangannya? Maksudnya merkuri kali ya. Oh, mengacu ke adegan sebelumnya di laboratorium. HAH? Pegang merkuri pake tangan telanjang? 

Di sinetron lain. Sudah lama sekali. Adegan orangtua pasien sedang berbincang dengan dokter. "Karena penyakit ini, ginjalnya tidak mampu lagi memproduksi darah," kata tokoh dokter. HEH?! Gue baru tau ginjal bisa bikin darah.

Kalau bukan para pemerannya yang kurang gape menghafal naskah, tentu naskahnya yang salah. Biar, anda protes dan mengatai saya keminter. Monggo. "Bikin naskah itu susah! Loe belom tentu bisa! Ngritik doang! Coba bikin sendiri kalo bisa!". Lha, justru karena saya tidak bisa bikin naskah, saya memilih jadi tukang kritik saja.

Nggumun, apa ya dalam penyusunan naskah itu tidak ada semacam riset sederhana, tho? Sekadar konfirmasi akan arti istilah yang dipakai dalam dialog. Supaya dokter tidak tampil konyol. Supaya praktikan laboratorium tidak akan dihabisi asistennya gara-gara tidak dapat membedakan antara raksa dengan asam sulfat.

Saya mencoba mengikuti tayangan serial TV Jomblo, karena saya suka filmnya. Hanya saja, ketika nonton tadi malam, rasanya janggal sekali. Apakah latar belakang tempat kuliah tokohnya sudah diganti? UNB itu harusnya Universitas Negeri Bandung kan? Lha di Bandung masa iya seliweran Kopaja dan Mikrolet sih? 

Wis, ah. Nyesel aku milih istirahat dengan nonton TV. Memang sulit untuk melepaskan dulu segala logika sebelum nonton sinetron. Sekadar supaya saya tidak terlalu lelah mempertanyakan banyak hal yang tampak sulit dimasukkan ke akal saya yang terbatas ini. Back to work!