MOLESTED!

Itu tema acara Oprah Winfrey 2 tahun lalu yang tayang pagi ini. Aku ngga berniat cerita tentang isi acara itu. T’was all sad stories. Dan aku mau atau ngga, aku jadi inget apa yang pernah kualami. Yes, I’ve had been molested years ago.

Ada banyak bentuk pelecehan. Dan yang paling mengerikan adalah ini bisa menimpa siapa aja. Jangan kira cuma cewek pake baju seksi aja yang bisa dilecehkan! Aku inget, waktu itu aku mau ke SMP. Entah janjian sama temen atau sama guru. Untuk ke sekolah, ada 2 jalan, keduanya cabang dari jalan utama. Bedanya, yang satu melewati pinggiran sawah. Bukan area tertutup, jalannya juga ngga sempit, sekitar 2 meter lebarnya. Ngga gelap, hanya -sekarang aku tau kalo itu bukan ‘hanya’- sepi kalau bukan jam berangkat atau pulang sekolah.

Aku lagi jalan, di depan sana ada cowok jalan menuju arahku. NOTHING in my mind that he would do something to me. Dan begitu kami papasan, dengan santainya tangan setan itu terjulur ke arah dadaku. He grabbed it, singkat, dan itu saja. SAJA?! Dia ketawa! Setan! Dan yang aku ngga percaya, aku jalan terus begitu aja. Saat itu ngga ada orang lain. Aku pikir, teriak pun percuma aja, terlalu jauh untuk kedengeran dari sekolah atau warung terdekat (ada 3 sekolah di sana). Dan aku takut dia akan berbuat lebih jauh. So I just walked away, as fast as I could.

Aku ngga inget lagi gimana aku melewatkan hari itu di sekolah. Bahkan aku ngga inget cowok terkutuk itu -damned him! semoga dia udah insyaf sekarang- wajahnya kaya apa. Dan aku lupakan. Yang aku inget, sejak itu aku bertekad untuk jaga diri lebih baik.

Entah udah lama itu berlalu, kemudian aku berjilbab. Kuharap dengan berjilbab aku bisa menjaga pandangan mata orang lain. Kututup semuanya, kulonggarkan bajuku, kutundukkan pandanganku. Tapi ternyata itu semua tidak menghalangi tangan iseng dan pikiran kotor! *catet itu! apalagi yang berpakaian ‘mengundang’!*

Tau Terminal Kampung Melayu? Ya, di sana. DUA kali! Aku pulang sekolah. Bareng akhwat lain. Melewati gerombolan supir -dan kenek dan orang kurang kerjaan- yang lagi nongkrong. Ngga deket banget, sejangkauan tangan pun lebih. Eh, ada tangan jail terulur, nyolek pantat -sori, gak ada bahasa lain yang lebih sopan-. Aku yang kaget, antara marah luar biasa dan ngga ingin keliatan ‘liar’ dengan bersumpah serapah, cuma bisa teriak "Kurang ajar!!". Dan mereka KETAWA!!!

Aku segera diseret temenku untuk menjauh dari sana. Secepet mungkin naik ke angkot. Dan di dalem angkot aku nangis. Sebel! Kesel! What did I do wrong?! Aku marah ke diri sendiri.

Rupanya, emang udah ‘garis’nya harus begitu. Di hari lain, juga sepulang sekolah -kali ini sendiri- di tempat yang deket situ juga, kejadian yang lain kurasakan (lagi! percaya gak sih?!). Ketika lewat sederetan angkot yang lagi ngetem -dengan menjaga jarak dari orang-orang nongkrong yang kuwaspadai-, tangan usil supir angkot tiba-tiba narik tanganku. Tanpa buang kata, aku renggut balik tanganku dan pergi. Teriak? Percuma, sudah kubuktikan sendiri kalo itu ngga ada gunanya. Ngadu? Sama siapa? Gak ada buktinya. Aku cuma anak esema yang gak penting.

Apapun katamu. Yang pasti, ngga ada yang namanya ‘sepele’ atau ‘kecil’ ketika itu sudah berurusan dengan pelecehan atau abuse.

Aku jadi ngga ngerti, apa yang ada di pikiran Sarah Azhari ketika dia bilang, "Aduh.. hari gini ngurusin UU Pornografi dan Pornoaksi? Ngga penting deh… Urusin aja korupsi tuh". *Halah, ngapain kupikirin apa yang dia pikirin? Kali buat dia, penting itu kalo berizin -dan dibayar-, makanya marah ketika video rekaman pas dia lagi ganti di kamar mandi beredar* Gosip? Ngga, dia emang bilang gitu kok -entah di infotainment mana, gak urusan-. "Dulu waktu video gue di kamar mandi beredar, ngga diributin. Sekarang Playboy yang punya izin, semua ribut. Urusin yang lebih penting aja lah!", katanya. Ampun, komentar ngga penting dari perempuan ngga penting. Parahnya, kok ya kedengeran sama aku yang lagi di kamar… Jadi keki. Huh.