Pernyataan Sikap terhadap Susu Formula (Bayi)

Ketika iseng-iseng melongok blog saya di Friendster (yang memang tidak terurus), yang salah satu tulisan salin-tempel (dari bananaTALK ini)nya adalah tentang promosi susu formula, saya dapati komentar dari seorang ibu (halo, mbak Alfita).

Komentar tersebut senada dengan tanggapan mbak Gita (halo mbak Gita, terimakasih atas obrolan langsungnya, ya) terhadap tulisan saya yang menentang promosi susu formula. Mbak Alfita dengan jelas meminta saya 'do it nicely' dalam 'syiar (ASI eksklusif)'.

Walaupun 'baru' dua orang yang menangkap pesan secara berbeda dari yang saya maksud, saya pikir ada perlunya saya memberi pernyataan terbuka (lagi). Sebagai penegasan. Daripada bolak-balik menjelaskan dan saya kadung dikenal sebagai pelopor 'katakan tidak terhadap susu formula'. Berabe nanti.

Sebagian di antara ibu sekalian merasa tersinggung atas tulisan-tulisan saya tentang susu formula, atau 'kampanye' saya seputar Air Susu Ibu (ASI) dan pemberian ASI eksklusif, atau mungkin mengira saya punya 'sesuatu' yang berkaitan dengan 'kampanye hitam' melawan susu formula merek tertentu. Rekan ibu tersayang di manapun anda, izinkan saya curhat kali ini.

Disclaimer: susu formula yang saya maksud dalam artikel ini adalah infant formula, (dengan pengertian infant: bayi berusia 0-12 bulan), yang berarti mengecualikan SEMUA susu 'yang diformulasi khusus' bagi anak umur 1 tahun ke atas -the so called growing-up milk or whatever.

Saya bukan ahli dan tidak sempurna sebagai ibu menyusui

Saya tidak merasa ahli dalam menyusui. Bahkan saya merasa sebagai ibu yang bodoh, karena saat melahirkan anak pertama saya bahkan tidak pernah mendengar istilah latch-on, ASI eksklusif, apalagi bagaimana seharusnya pihak rumah sakit mendukung ibu dan bayi dengan 'mempromosikan' ASI eksklusif alih-alih bertindak 'kalau tidak bilang ya berarti tidak keberatan jika bayinya diberi susu formula'.

Sungguh pengalaman yang berharga. Dan saya harap ibu-ibu lain tak perlu mengalami apa yang saya alami, 'hanya' untuk mendapat 'pelajaran' yang sama: persiapkan segala sesuatu sejak kehamilan (bahkan idealnya sebelum menikah dan hamil). Mulai dari diri sendiri, pasangan, anggota keluarga yang lain, bidan atau dokter yang akan menangani, sampai memilih rumah sakit yang mendukung pilihan menyusui.

Saya sepenuhnya mengerti, bahwa masalah dalam penyusuan tidaklah sesepele yang dipikirkan orang. Bahwa menyusui adalah sesuatu yang alami, tidak butuh teori, apalagi bimbingan orang lain. Sungguh -mati- saya menyesal pernah punya pikiran seperti ini. Dan saya turut sedih dan simpati atas para ibu yang sangat ingin menyusui bayinya namun apa daya ternyata tak mampu, dengan berbagai sebab.

Lalu, mengapa saya terkesan 'antipati' terhadap susu formula? Mari kita pisahkan dua hal. Susu formula adalah satu hal. Dan promosinya adalah hal lain. Kemudian kita konsentrasi pada yang kedua. Saya TIDAK PERNAH mengatakan atau mengajak untuk mengatakan "Say no to infant formula". Yang saya katakan adalah "Katakan tidak pada PROMOSI susu formula". 

Jangan ambil hati atau menganggapnya jadi masalah pribadi ketika saya mengecam praktik promosi yang dilakukan oleh produsen susu formula pilihan (favorit?) anda untuk buah hati tersayang. Saya tidak 'menyerang' anda. Seharusnya bukan anda yang marah, tapi produsen susu formula!

Saya tidak antipati terhadap susu formula, apalagi tidak berusaha memahami perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya

Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung satupun ibu yang memberi susu formula kepada bayinya. Dengan alasan apapun. Satu, karena keputusan tersebut adalah murni hak ibu. Dua, karena yang menjalani keputusan tersebut adalah ibu (dan anaknya). Tiga, yang paling ingin saya katakan saat ini, adalah karena saya termasuk salah satu dari anda!

Saya tidak punya dendam pribadi terhadap susu formula. Susu formula tidak melakukan kejahatan apapun terhadap anak saya. Ia hanya 'benda mati' yang menolong saya ketika dilanda frustasi saat menyusui, saat ASI berkurang dan dukungan untuk menyusui -saya rasakan- berkurang, dan justru meningkat untuk beralih ke pemberian susu formula.

Ya, saya JUGA memberikan susu formula pada anak pertama saya. Jadi para ibu yang memutuskan memberi susu formula kepada anaknya tak perlu merasa sakit hati karena tulisan saya yang seolah 'kurang mengerti perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya'. I was in your shoes, too! Saya tidak mengambil oposisi darimu. Bagaimana bisa?

Saya merasakan (sebagian) yang dialami dua pihak 'target' promosi susu formula

Sebagai yang pernah merasakan dua keadaan: memberi susu formula pada anak pertama sejak lahir, dan samasekali tidak memberikan susu formula pada anak kedua (sampai sekarang), saya mengerti perjuangan masing-masing 'pihak'. Bahwa menyusui bukan tanpa halangan. Ini adalah kata kuncinya.

Ada ibu yang tidak mampu menyusui (misalnya karena ASI tidak keluar samasekali), ada ibu yang masih dapat menyusui namun memilih memberikan tambahan susu formula, dan ada pula ibu yang memilih untuk tidak menyusui. Ketiganya memerlukan susu formula sebagai solusi, mereka saya sebut 'pihak pertama'.

Ada ibu yang mampu untuk menyusui, karena keinginan, karena kemampuan, dan karena usahanya. Perjuangan beberapa ibu untuk menyusui secara eksklusif patut diacungi jempol. Tanya mbak Rani, yang 'jungkir balik' demi Noe yang sempat mogok menyusu akibat produksi ASInya terlalu melimpah ruah (Overactive Milk Ejection Reflex, OMER). Kelompok yang memilih menyusui dan tidak memberikan susu formula saya sebut sebagai 'pihak kedua'.

Pihak pertama merasakan halangan biologis (dan mental) sehingga tak dapat menyusui. Sedangkan pihak kedua merasa DIhalangi secara fisik (dipisahkan dari bayi, tidak diberi kesempatan perlekatan dini-early latch-on (ELO)) dan mental (dikatakan kepada mereka bahwa ASI saja tidak cukup, bayi akan kelaparan, bayi akan kuning/jaundice, dan lain-lain yang belum tentu benar -dan kalaupun sebagian benar, tidak berbahaya).

Pihak kedua ini lebih banyak saya sorot. Mohon maaf, bukan kesengajaan untuk berlaku tidak adil. Tapi untuk melawan agresivitas promosi susu formula, pihak kedualah yang perlu dibela. Dibantu untuk mempertahankan haknya.

Pihak pertama adalah yang membutuhkan kehadiran susu formula, yang PASTI akan tetap tersedia walau tanpa promosi jor-joran melanggar kode etik internasional seperti sekarang ini. Pihak kedua adalah yang bertahan dari 'serangan' promosi susu formula, yang PASTI akan tetap eksis karena dibutuhkan oleh pihak pertama, walau tanpa sokongan promosi yang merugikan.

Bukan memilih; jika pilihan tidak tersedia atau tak bisa dipilih

Biarkan ibu memilih, itu benar sekali. Kita patut menghargai pilihan yang dibuat oleh orang lain. Terutama karena ia sendiri yang akan menjalaninya. Tapi bukan memilih namanya, jika tidak ada pilihan.

Tidak ada pilihan untuk perlekatan dini, jika setelah lahir bayi langsung diperiksa, ditimbang, dimandikan, dan dibawa ke ruang bayi. Bagi yang menjalani operasi, bahkan tidak diberi pilihan untuk bius lokal, 'hanya' demi bayi bisa menjalani perlekatan dini. Yang ibu tahu, begitu sadar, bayinya sudah nyaman di boks bayi dalam keadaan kenyang.

Atau ibu yang memilih bius lokal sekalipun, sebagian masih 'dihadang' alasan "Obat bius di tubuh ibu dapat memberi dampak negatif pada bayi", yang sebetulnya dampak negatifnya adalah berkurangnya reflek hisap saat perlekatan dini. Tak lebih. ASI ibu aman untuk bayi.

Tidak ada pilihan untuk memberi ASI eksklusif, jika setelah menyatakan demikian bayi tidak segera diserahkan ke ibu untuk disusukan kapanpun si bayi ingin menyusu. Bukan memilih untuk memberi susu formula, jika prosedur baku di rumah sakit adalah "Jika tidak ada pernyataan memberi ASI, maka anak akan diberi susu formula kecuali ketika sedang bersama ibunya di waktu-waktu yang 'diizinkan' oleh rumah sakit'.

Sisa waktu lainnya dihabiskan bayi di ruang bayi. Bersama bayi lainnya, bersama para perawat. Jauh dari suara dan peluk ibu. Rooming-in adalah pilihan yang mahal, yang di sebagian (besar?) rumah sakit di Indonesia (atau hanya di kota besarnya?) hanya dapat dinikmati oleh pasien dengan pilihan tarif kelas 1 dan VIP.

Yang amat sangat sulit saya terima adalah: kenapa pemberian susu formula dijadikan prosedur standar? Anda dapat menjawabnya, segera setelah membaca referensi yang saya berikan di akhir tulisan. Bahkan sebelum membaca, anda dapat mengendus baunya. Uang dan politik.

Promosi: antara memenuhi dan menciptakan kebutuhan. Dengan pembodohan, jika perlu.

Sesempit pengetahuan saya tentang pemasaran, ada dua cara dalam memasarkan produk: memenuhi kebutuhan yang memang telah ada, dan menciptakan kebutuhan (baru) untuk produk yang telah atau akan dibuat.

Kebutuhan susu (sapi) cair dipenuhi produsen dengan mengeluarkan lini produk susu pasteurisasi dan susu UHT. Sedangkan produk susu cair organik dapat diciptakan pasarnya dengan mengangkat isu keamanan dan kealamian proses.

Begitu juga dengan susu formula. Susu formula memenuhi kebutuhan ibu yang tak mampu (atau memilih untuk tidak) menyusui secara penuh (maupun samasekali tidak menyusui). Sedangkan ibu yang menyusui, dapat dibuat 'merasa butuh' membeli susu formula andaikan mereka 'merasa' ASInya kurang.

Ini seperti membandingkan kebutuhan memakai pelembap bagi yang wajahnya kering dan menciptakan kebutuhan untuk 'tampak muda kembali' bagi produk pelembap dengan kandungan anti-aging.

Tampak muda. Apakah anda benar-benar membutuhkannya? Atau sebagian orang BILANG bahwa anda butuh dan perlu untuk tampak muda supaya tampak menarik? Anda mengerti maksud saya, kan?

Ibu-ibu yang masih mampu menyusui (melewati masa eksklusif 6 bulan yang direkomendasikan WHO, salut untuk anda!), seperti yang saya alami, ditawari produk susu formula dengan alasan 'ASI tidak cukup lagi'. Betul, kebutuhan nutrisi tidak lagi dapat disokong SEPENUHNYA oleh ASI. Di sinilah perlunya pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan.

Dengan demikian ibu yang mampu menyusui sebetulnya tak perlu khawatir anaknya kurang gizi karena asupannya 'hanya' ASI dan MPASI. Dan ibu-ibu ini tak perlu SENGAJA dibuat, diarahkan, dibimbing, untuk merasa khawatir anaknya 'ternyata' memerlukan susu formula karena ASInya tak lagi mampu menjadi satu-satunya asupan nutrisi.

Ini yang saya lawan. CARA PROMOSI seperti ini adalah PEMBODOHAN dan PEMBOHONGAN. Lawan!

*Serasa masih mahasiswa. Ngga papa dong ya, biarpun tubuh sudah ibu-ibu, semangat muda selalu :mrgreen:

Tambahan, rupanya Kompas menurunkan artikel yang senada dengan tulisan saya ini. Lihat di Waspadai Promosi Susu Formula. Terimakasih infonya, jeng Indah ;)

Referensi 'kampanye' saya:

  • The international code of marketing of breastmilk substitutes. Penjelasan tentang kode etik yang 'ramah' dibaca, dari International Baby Food Action Network (IBFAN). Aslinya dari WHO (pdf).
  • IBFAN code watch. Lihat rekaman pelanggaran yang mereka lakukan di beberapa negara. Indonesia? Lihat di sini (format pdf).
  • How breastfeeding is undermined. Here.
  • A brief guide to spotting a violation. Di sini.
  • ASI oke banget. Group blogging. Temukan kelompong pendukung (support group) bagi ibu menyusui di sini. Milis ASI for baby di sini.
  • Breastfeeding after cesarian birth, dari La Leche League. Anda bisa menyusui segera setelah melahirkan dengan cara operasi!
  • Breastfeeding after surgery, dari dr. Sears.