Selamat Jalan, Dek

Saya terbangun dengan kikuk setelah menyusui Daud hingga tertidur. Bingung mendapati ibu yang telah berganti pakaian –siap pergi- tergesa mencari jaket. “Mau ke mana, Ma?”, sudah malam dan adik bungsuku juga telah tidur. Anak tetangga saya meninggal. Maghrib ini.

Tak bisa dicegah, dada mendadak sesak disusul lelehan airmata. Bayi itu baru berumur sehari…

Kehadirannya tak disengaja. Ia bertumbuh diam-diam, hingga akhirnya tubuh sang ibu tak mampu menyembunyikan. Bisik-bisik gunjing tak mampu mewakili kekhawatiran saya terbesar: nasib si janin.

Ibu yang tak siap dengan kehamilan, ayah yang belum lagi sah dan mengerti bagaimana mendukung kehamilan, dan keluarga yang serba terbatas dari sisi ekonomi serta ilmu.

Apakah si ibu mengerti untuk memeriksakan kehamilan secara rutin? Apakah ibu mengerti untuk menjaga asupan nutrisi yang jelas tak cukup dari jajan bakso, mi ayam, gorengan, dan cemilan kriuk-kriuk ringan gizi? Apakah si ibu telah mempersiapkan kebutuhan sandang bayi? Apakah si ibu telah mempersiapkan diri untuk menyusui?

Berpuluh pertanyaan lain terlalu menyibukkan pikiran saya. Nyaris tak berani langsung bertatap mata dengannya, khawatir resah itu terlalu nyata di pandangan mata saya dan berbicara terlalu banyak, hingga mengganggu privasinya.

Sungguh tak berguna menyesali ketelanjuran, memang. Karena itu saya tak sedikitpun beringat status janin, yang menyaksikan pernikahan ayah-ibunya bulan lalu. Saya hanya mengkhawatirkan kesehatannya.

Ketika kemarin si ibu sempat berproses di bidan lalu berpindah ke rumah sakit pemerintah terdekat, yang ada hanya dugaan-dugaan. Cerita sepotong-sepotong, yang kurang meyakinkan. Malam ini saya dapatkan jawaban lainnya.

Si ibu melahirkan dalam keadaan air ketuban yang telah menghijau. Ah, pantas saja saya tak mendengar tangis bayi sedikitpun walaupun si ibu telah kembali ke rumah pagi tadi. Keanehan yang seharusnya mendorong saya untuk sekadar bertanya. Jika keadaannya seserius itu…

Di sinilah saya, bercerita sambil berurai airmata. Perlahan meraba dada sendiri, mengira-ngira sedih sang ibu baru. Ketika bayi mungilnya yang mewujud tanpa dikehendaki, dilahirkan dengan iringan jerit sakit dan kesulitan, kini tiada tanpa ia di sisinya. Jerit pilunya lama dan sukar ditenangkan, mengungkap dukanya, “Mau ikut dedek aja… Mau ikut kakek (sudah meninggal –red.) aja…”.

Melengkapi itu semua, tubuh ibu menemani duka dengan ketegasan yang tak tanggung-tanggung. Insting dan anugerah ilahiah menyuruh ia melakukan fungsinya. Air susu yang berderai bersama jatuhnya airmata. Tubuh ibu tak pernah peduli bayi ada di mana. Dan saya tergugu…