Lagi-lagi televisi. Tentu saja, televisi banyak berperan dalam menyebarkan informasi penting, entah itu berita ‘positif’ atau ‘negatif’. Termasuk dalam memberitakan (mempromosikan???) bencana.
Seorang ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh kaku anaknya yang berusia 15 bulan. Gelombang memisahkan mereka dan ibu-anak bertemu dalam keadaan yang ‘tidak diinginkan’. Saya tak kuasa menahan haru, teringat si sulung 2,5 tahun.
Paman dan keponakan akhirnya bertemu. Saya rasa sang paman pastilah sangat bersyukur sehingga menangis haru mengetahui keponakannya selamat. Dan para kuli kaset (kalau meliput dengan rekaman gambar, bukan kuli tinta kan ya?) bertanya,
Bagaimana perasaannya pak, waktu keponakannya sudah ketemu?
Saya termangu. Pikiran serasa kosong seketika.
Astaga. Apakah para pekerja media ini memang kurang sensitif ataukah saya saja yang kelewat sinis?



bisa jadi sampeyan yang terlalu sinis, bisa juga pekerja media yang kurang sensitif, tergantung lihatnya dari sisi mana? *sok netral
semalem di tengah rewelnya raffa karena pilek, sempet terlintas gambar mayat anak korban tsunami di tv. gak kuat ngeliatnya mbak… minta channel dipindahin aja. bukan karena nggak peduli, tapi ya itu tadi.. setuju ama mbak lita, kenapa bencana di-expose sedemikian rupa ya.
yang penting uluran tangan kita deh… seperti apapun keadaan mereka, pasti bantuan sangat dibutuhkan.
ups.. kok jadi sok wise ya..
Hehehhe….
Bener kan kata saya
Emang, jurnalis kita kurang canggih, entah ilmunya yang mepet, apa ndak pernah ditraining, apa memang nggak ada namanya jurnalisme, jangan-jangan.
Tapi masak kita harus menikmati hidup, apa adanya, bloon seperti sekarang ini. Beruntung, saya baru beli tv, dan jarang nyalainnya, males, pusing liat tiap stasiun adegan pelototan, nangis, atau serem-sereman (padahal tak serem). Mending ngobrol dan ngudang anak yang lucu, kan?
memang perasaan ibu2 tll sensitip
Bencana itu kadang dianggap seperti ’studio sinetron’ oleh pekerja TV. Sampai-sampai korban-korban kriminal sampai nangis2 saking gemesnya sama wartawan yang ingin meliput.
Di kasus bencana alam, ada wartawan2 yang menyajikan berita ‘as-is’, tapi ada juga yang menambah2kan, nggolek2 berita yang aneh2, dan lagi-lagi memposisikan sebagai studio sinetron.
iya juga seeh, kalo di pikir2 tuh pekerja media menanyakan hal yang gak perlu lagi di jawab
mungkin media yang ber-”perasaan” ?? nanya nya perasaan melulu
pers juga manusia….
mungkin ini bedanya media kebanyakan dg Reuters…
FYI…di reuters, wartawannya harus lulus pendidikan ala militer (3 bulan) dulu baru bisa terjun lapangan
Dulu pas kuliah, saya pernah dapat pelajaran tentang jurnalistik, kalau kita pas menemukan object korban yang butuh pertolongan, sesbagai seorang jurnalis, katanya kita ambil foto/gambarnya dulu, baru kita tolong korbannya. so…kayaknya emang ga pas kalau dilihat dari sisi manusiawi? tanya kenapa??? hehehehe….
Hmm.. Itu mah oknum reporternya aja yang -maaf- kurang kerjaan. Tayangan itu -tanpa ada komentar- pun sudah bermakna lebih banyak daripada kata..
There are a lot, and I really mean A LOT of people were thinking about “new project” everytime there are disasters. The more the merrier, implicitly shown from how they behave. Sadly.
“How would you feel” kind of question should be answered “How would YOU feel.”
But it’s rather difficult on media as they are also obliged to pass the message to the world through their equipment althought it does not have to be from that kind of angle.
Kadang-kadang saya pengin tahu aja, apa pernah terlintas di hati mereka untuk sekedar bantu-bantu mencari korban, misalnya, atau memberi informasi terkini untuk korban tentang manajemen bencana, tips2 evakuasi etc dan bukan untuk menjual airmata lewat media.
I remember there was once in 1994, a journalist won a PULITZER for a picture he took in Sudan 1993 of a hungry child trying to manage himself to a feeding centre. And ironically, a vulture waited there as if it was waiting for the child to die to become his food.
Kevin Cartner, the journalist, who won the PULITZER for that picture, COMMITTED SUICIDE just two months after the award because he could not escape, the “vivid memories of killings and corpses and anger and pain,” and the “starving and wounded children” ever before his eyes.
http://www.beforeiforget.co.uk/2005/11/08/tuesday-november-8-2005-at-0209-pm/
Does that ever struck any of our journalist’s mind?
The guilt?
Pardon, for the long comment please.
Silverlines
That’s not a problem. You inserted a link, that’s why your comment entered the moderation list. Sorry, gotta watch those spammers with hyperlinks
skrg bingun mo nonton TV. ngeliat korban bencana gak tega, ngeliat tindakan pemerintah yg lamban jadi gemas, ngeliat sinteron dah muak, ngeliat infotainment nambah dosa, ngeliat film holiwut ada beberapa adegan yg gak boleh dilihat.
mending bercanda ama Rafa aja deh
ya di jual aja tuh tipi, kacian kan gak di tonton
mungkin mereka ga tahu lagi harus nanya apa. jadi apa yang terlintas pertama, ya itu yang terucap. eh itu mah tanda kurang siap terjun ke lapangan yah?
kenapa mesti sinis bu???
wah buat wartawan mah semakin histeris objek berita semakin semangat dia ngeliputnya..karena itu berarti semakin “mahal” hasil liputannya kan…sensitifitas mah nomor sekian kale..
engga juga sih. mungkin wartawannya ingin mengeksplor lebih jauh perasaan paman itu sehingga permirsa juga bisa merasakan kebahagiaannya.
Saya termangu. Pikiran serasa kosong seketika.
Astaga. Apakah para pekerja media ini memang kurang sensitif ataukah saya saja yang kelewat sinis
koreksi, bulik. bukan pekerja media [generik] yang kurang sensitif, melainkan reporter televisi [spesifik] yang kebetulan sampean lihat mungkin memang belum berpengalaman, kikikik …. * defense mode on*
Dhika
Iya, sok obyektif. Bisa saja terjadi dua-duanya toh?
Lely
Bagaimanapun ulah yang tampak oleh penonton, yang mengalami musibah harus tetap ditolong
Arif Widianto
Ngudang anak mah yang anaknya masih kecil. Kalo udah SMP apa ya masih dikudang?
Ya ya deh, bener…
Luthfi
Iya nak, kalo bukan dari kami, dari mana kalian akan belajar tentang makna kata ’sensitif’
Hericz
Aduh, gawat ya kalau tugas memberitakan (yang sebenarnya mulia) jadi turun kasta ke level sinetron?
Aribowo
Bisa dijawab dengan pertanyaan aja: “Yang anda lihat bagaimana?”
Wandira
Iya ya… terlalu berperasaan kalau begitu. Sedikit yang terlalu berperasaan masih gak papa. Tapi kalau kebanyakan, bosen dan eneg juga :p
Hedi
Wah… gitu ya? Semoga wartawannya nggak melulu ber’jiwa’ militer ya :p Nurut aja apa kata atasan.
Cahyo
Kalau ditolong dulu, ntar ‘momen’nya ilang. Gak jadi ada bahan berita.
*gubrak!*
Mbu
Iyap. Gambar bisa mewakili ribuan
byteskata.Silverlines
Speechless. Indeed, a very ‘beautiful’ picture.
I saw the picture. Gave me creeps
It CAN give you nightmare. Especially for the photographer. No doubt for the guilty feeling.
De
Iya nih, mas Rafa main bareng yook!
Aribowo
Gak punya tipi, yang punya ibu
Komentarnya gak salah posting nih?
nYam
Nah, kau katakan padaku: yang mana?
Tatari
Jawaban dari saya sudah cukup terwakili oleh sebagian komentar di sini
Irma
Ouch…
Ruanee
Gitu ya? Kuharap mereka punya stok pertanyaan ‘pembuka’ yang lebih baik daripada itu :p
Ndoro kakung
Nggih ndoro…
bisa jadi wartawannya yang kurang bahan…
wekekekekkk..
saya sempat miris, kok jadinya tv mengeksploitasi bencana.. untuk minta amal bantuan pun, yang ditampilkan, rumah hancur, ibu2 menangis, anak2 yang terbujur kaku dipelukan ibunya.. apa tidak bisa menampilkan gambar yang lebih ’sopan’ sedikit
Saya sempat diprotes habis-habisan oleh temen saya, waktu berita di pangandaran terjadi tsunami, saya menolak menyalakan tv untuk melihat berita korban pangandaran.
miris, takut, dan nggak tega. Perasaan ini yang mungkin nggak ditangkap oleh teman saya itu.
hiks…
Ass wr wb
Kiranya pesan yang bisa ditangkap dari layar kaca adalah bagaimana kita bisa mendapatkan informasi darinya, mungkin bukan menyirami perasaan. Tapi memang kadangkala kita suka skeptimistik melihat kenyataan…benarkah ?