Tsunami dan Televisi

Lagi-lagi televisi. Tentu saja, televisi banyak berperan dalam menyebarkan informasi penting, entah itu berita ‘positif’ atau ‘negatif’. Termasuk dalam memberitakan (mempromosikan???) bencana.

Seorang ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh kaku anaknya yang berusia 15 bulan. Gelombang memisahkan mereka dan ibu-anak bertemu dalam keadaan yang ‘tidak diinginkan’. Saya tak kuasa menahan haru, teringat si sulung 2,5 tahun.

Paman dan keponakan akhirnya bertemu. Saya rasa sang paman pastilah sangat bersyukur sehingga menangis haru mengetahui keponakannya selamat. Dan para kuli kaset (kalau meliput dengan rekaman gambar, bukan kuli tinta kan ya?) bertanya,

Bagaimana perasaannya pak, waktu keponakannya sudah ketemu?

Saya termangu. Pikiran serasa kosong seketika.
Astaga. Apakah para pekerja media ini memang kurang sensitif ataukah saya saja yang kelewat sinis?

Mail this post to friend : E-Mail This Post/Page

RSS feed | Trackback URI

24 Comments »

Comment by Dhika
2006-07-19 10:48:39

bisa jadi sampeyan yang terlalu sinis, bisa juga pekerja media yang kurang sensitif, tergantung lihatnya dari sisi mana? *sok netral :)

 
Comment by lely
2006-07-19 11:25:40

semalem di tengah rewelnya raffa karena pilek, sempet terlintas gambar mayat anak korban tsunami di tv. gak kuat ngeliatnya mbak… minta channel dipindahin aja. bukan karena nggak peduli, tapi ya itu tadi.. setuju ama mbak lita, kenapa bencana di-expose sedemikian rupa ya.
yang penting uluran tangan kita deh… seperti apapun keadaan mereka, pasti bantuan sangat dibutuhkan.
ups.. kok jadi sok wise ya..

 
Comment by Arif Widianto
2006-07-19 12:37:34

Hehehhe….

Bener kan kata saya :)

Emang, jurnalis kita kurang canggih, entah ilmunya yang mepet, apa ndak pernah ditraining, apa memang nggak ada namanya jurnalisme, jangan-jangan.

Tapi masak kita harus menikmati hidup, apa adanya, bloon seperti sekarang ini. Beruntung, saya baru beli tv, dan jarang nyalainnya, males, pusing liat tiap stasiun adegan pelototan, nangis, atau serem-sereman (padahal tak serem). Mending ngobrol dan ngudang anak yang lucu, kan? :)

 
Comment by luthfi
2006-07-19 12:40:56

memang perasaan ibu2 tll sensitip

 
Comment by hericz
2006-07-19 15:04:35

Bencana itu kadang dianggap seperti ’studio sinetron’ oleh pekerja TV. Sampai-sampai korban-korban kriminal sampai nangis2 saking gemesnya sama wartawan yang ingin meliput.

Di kasus bencana alam, ada wartawan2 yang menyajikan berita ‘as-is’, tapi ada juga yang menambah2kan, nggolek2 berita yang aneh2, dan lagi-lagi memposisikan sebagai studio sinetron.

 
Comment by aribowo
2006-07-19 15:09:53

iya juga seeh, kalo di pikir2 tuh pekerja media menanyakan hal yang gak perlu lagi di jawab

 
Comment by wandira
2006-07-19 16:57:58

mungkin media yang ber-”perasaan” ?? nanya nya perasaan melulu

 
Comment by Hedi
2006-07-20 00:53:48

pers juga manusia….
mungkin ini bedanya media kebanyakan dg Reuters…
FYI…di reuters, wartawannya harus lulus pendidikan ala militer (3 bulan) dulu baru bisa terjun lapangan :D

 
Comment by cahyo
2006-07-20 08:44:06

Dulu pas kuliah, saya pernah dapat pelajaran tentang jurnalistik, kalau kita pas menemukan object korban yang butuh pertolongan, sesbagai seorang jurnalis, katanya kita ambil foto/gambarnya dulu, baru kita tolong korbannya. so…kayaknya emang ga pas kalau dilihat dari sisi manusiawi? tanya kenapa??? hehehehe….

 
Comment by mbu
2006-07-20 09:04:32

Hmm.. Itu mah oknum reporternya aja yang -maaf- kurang kerjaan. Tayangan itu -tanpa ada komentar- pun sudah bermakna lebih banyak daripada kata..

 
Comment by Silverlines
2006-07-20 09:28:50

There are a lot, and I really mean A LOT of people were thinking about “new project” everytime there are disasters. The more the merrier, implicitly shown from how they behave. Sadly.
“How would you feel” kind of question should be answered “How would YOU feel.”
But it’s rather difficult on media as they are also obliged to pass the message to the world through their equipment althought it does not have to be from that kind of angle.
Kadang-kadang saya pengin tahu aja, apa pernah terlintas di hati mereka untuk sekedar bantu-bantu mencari korban, misalnya, atau memberi informasi terkini untuk korban tentang manajemen bencana, tips2 evakuasi etc dan bukan untuk menjual airmata lewat media.
I remember there was once in 1994, a journalist won a PULITZER for a picture he took in Sudan 1993 of a hungry child trying to manage himself to a feeding centre. And ironically, a vulture waited there as if it was waiting for the child to die to become his food.
Kevin Cartner, the journalist, who won the PULITZER for that picture, COMMITTED SUICIDE just two months after the award because he could not escape, the “vivid memories of killings and corpses and anger and pain,” and the “starving and wounded children” ever before his eyes.

http://www.beforeiforget.co.uk/2005/11/08/tuesday-november-8-2005-at-0209-pm/

Does that ever struck any of our journalist’s mind?
The guilt?

 
Comment by Silverlines
2006-07-20 09:30:09

Pardon, for the long comment please.

 
Comment by Lita
2006-07-20 09:37:40

Silverlines
That’s not a problem. You inserted a link, that’s why your comment entered the moderation list. Sorry, gotta watch those spammers with hyperlinks :)

 
Comment by de
2006-07-20 11:19:43

skrg bingun mo nonton TV. ngeliat korban bencana gak tega, ngeliat tindakan pemerintah yg lamban jadi gemas, ngeliat sinteron dah muak, ngeliat infotainment nambah dosa, ngeliat film holiwut ada beberapa adegan yg gak boleh dilihat.

mending bercanda ama Rafa aja deh

 
Comment by aribowo
2006-07-20 14:47:17

ya di jual aja tuh tipi, kacian kan gak di tonton

 
Comment by nYam
2006-07-21 10:55:59

mungkin mereka ga tahu lagi harus nanya apa. jadi apa yang terlintas pertama, ya itu yang terucap. eh itu mah tanda kurang siap terjun ke lapangan yah?

 
Comment by tatari
2006-07-21 13:03:56

kenapa mesti sinis bu???

 
Comment by Irma Citarayani
2006-07-21 14:56:59

wah buat wartawan mah semakin histeris objek berita semakin semangat dia ngeliputnya..karena itu berarti semakin “mahal” hasil liputannya kan…sensitifitas mah nomor sekian kale..

 
Comment by ruanee
2006-07-21 17:31:57

engga juga sih. mungkin wartawannya ingin mengeksplor lebih jauh perasaan paman itu sehingga permirsa juga bisa merasakan kebahagiaannya.

 
Comment by ndoro kakung
2006-07-21 21:00:46

Saya termangu. Pikiran serasa kosong seketika.
Astaga. Apakah para pekerja media ini memang kurang sensitif ataukah saya saja yang kelewat sinis

koreksi, bulik. bukan pekerja media [generik] yang kurang sensitif, melainkan reporter televisi [spesifik] yang kebetulan sampean lihat mungkin memang belum berpengalaman, kikikik …. * defense mode on*

 
Comment by Lita
2006-07-22 22:00:37

Dhika
Iya, sok obyektif. Bisa saja terjadi dua-duanya toh? :lol:

Lely
Bagaimanapun ulah yang tampak oleh penonton, yang mengalami musibah harus tetap ditolong :)

Arif Widianto
Ya ya deh, bener… :) Ngudang anak mah yang anaknya masih kecil. Kalo udah SMP apa ya masih dikudang? :)

Luthfi
Iya nak, kalo bukan dari kami, dari mana kalian akan belajar tentang makna kata ’sensitif’ :mrgreen:

Hericz
Aduh, gawat ya kalau tugas memberitakan (yang sebenarnya mulia) jadi turun kasta ke level sinetron? :mrgreen:

Aribowo
Bisa dijawab dengan pertanyaan aja: “Yang anda lihat bagaimana?” :)

Wandira
Iya ya… terlalu berperasaan kalau begitu. Sedikit yang terlalu berperasaan masih gak papa. Tapi kalau kebanyakan, bosen dan eneg juga :p

Hedi
Wah… gitu ya? Semoga wartawannya nggak melulu ber’jiwa’ militer ya :p Nurut aja apa kata atasan.

Cahyo
Kalau ditolong dulu, ntar ‘momen’nya ilang. Gak jadi ada bahan berita.
*gubrak!*

Mbu
Iyap. Gambar bisa mewakili ribuan bytes kata.

Silverlines
I saw the picture. Gave me creeps :( Speechless. Indeed, a very ‘beautiful’ picture.
It CAN give you nightmare. Especially for the photographer. No doubt for the guilty feeling.

De
Iya nih, mas Rafa main bareng yook! :)

Aribowo
Gak punya tipi, yang punya ibu :mrgreen:
Komentarnya gak salah posting nih?

nYam
Nah, kau katakan padaku: yang mana? :mrgreen:

Tatari
Jawaban dari saya sudah cukup terwakili oleh sebagian komentar di sini :)

Irma
Ouch…

Ruanee
Gitu ya? Kuharap mereka punya stok pertanyaan ‘pembuka’ yang lebih baik daripada itu :p

Ndoro kakung
Nggih ndoro…

 
Comment by -tikabanget-
2006-07-24 11:32:21

bisa jadi wartawannya yang kurang bahan…
wekekekekkk..

 
Comment by fathirhamdi
2006-07-25 11:55:22

saya sempat miris, kok jadinya tv mengeksploitasi bencana.. untuk minta amal bantuan pun, yang ditampilkan, rumah hancur, ibu2 menangis, anak2 yang terbujur kaku dipelukan ibunya.. apa tidak bisa menampilkan gambar yang lebih ’sopan’ sedikit

Saya sempat diprotes habis-habisan oleh temen saya, waktu berita di pangandaran terjadi tsunami, saya menolak menyalakan tv untuk melihat berita korban pangandaran.

miris, takut, dan nggak tega. Perasaan ini yang mungkin nggak ditangkap oleh teman saya itu.

hiks…

 
Comment by wawan
2006-08-03 20:53:32

Ass wr wb

Kiranya pesan yang bisa ditangkap dari layar kaca adalah bagaimana kita bisa mendapatkan informasi darinya, mungkin bukan menyirami perasaan. Tapi memang kadangkala kita suka skeptimistik melihat kenyataan…benarkah ?

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong> in your comment.

! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»

aSide Notes

RSS
» 

So… yesterday I wore flats. Usually I wear wedges (5 cm comfortable rubber heels) or sneakers (yea yea… forbidden -who forbid it anyway?-, but hey, it's safe for chemistry lab when I have to prepare chemicals!).

I don't usually stumble upon my own foot. More over to fall because of it. And yesterday I fell. How embarrassing! And I was in flats! I hoped nobody saw that. Geez… luckily the alley was empty. Or it was not…

Curiously, I might've forgotten how to behave in flats. Odd. Well, shit happens.

 (0)

FireStats icon Powered by FireStats