Tsunami dan Televisi
Lagi-lagi televisi. Tentu saja, televisi banyak berperan dalam menyebarkan informasi penting, entah itu berita ‘positif’ atau ‘negatif’. Termasuk dalam memberitakan (mempromosikan???) bencana.
Seorang ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh kaku anaknya yang berusia 15 bulan. Gelombang memisahkan mereka dan ibu-anak bertemu dalam keadaan yang ‘tidak diinginkan’. Saya tak kuasa menahan haru, teringat si sulung 2,5 tahun.
Paman dan keponakan akhirnya bertemu. Saya rasa sang paman pastilah sangat bersyukur sehingga menangis haru mengetahui keponakannya selamat. Dan para kuli kaset (kalau meliput dengan rekaman gambar, bukan kuli tinta kan ya?) bertanya,
Bagaimana perasaannya pak, waktu keponakannya sudah ketemu?
Saya termangu. Pikiran serasa kosong seketika.
Astaga. Apakah para pekerja media ini memang kurang sensitif ataukah saya saja yang kelewat sinis?


bisa jadi sampeyan yang terlalu sinis, bisa juga pekerja media yang kurang sensitif, tergantung lihatnya dari sisi mana? *sok netral