Archived entries for Microsoft Bloggership 2010

Pushing on

I managed to submit 2 articles for Microsoft Bloggership 2010 today. And I only worked them out today.

Procrastinating isn’t something I can brag about. But pushing my boundaries above my very tired body, very sleepy eyes & piled paperwork (which already half-done) is… fun and satisfying. It should be more satisfying had I worked on them earlier.

Tutorial Online

Gauli saja!

Menyikut kecemburuan saya pada perangkat komunikasi (emang enak dicuekin, woy!), mengapa tidak saya rangkul sekalian saja supaya tujuan saya tercapai, toh? Cukuplah sirik-sirikannya di kelas saat saya sedang menerangkan pelajaran. Di luar itu, gadget dapat dijadikan teman karib dalam berkarya.

Sempat ditanyakan saat sesi tanya-jawab di penganugerahan dana hibah CSF 2009, “Apakah guru harus selalu mengikuti tren gaul media sosial murid? Melelahkan, bukan?”. Bukan! Eh… tentunya. Tapi tak ada yang tak memerlukan jerih payah, bukan? *bukan lagi*

Friendster sudah berlalu. Facebook masih berjaya dengan fitur album foto dan games. Twitter menjadi media jelajah yang belum banyak didatangi guru (atau saya saja yang belum cukup gaul, mungkin). Masih ada Tumblr, Posterous, Google Wave, dan lainnya yang akan segera bermunculan.

Jaim, dong!

Sebisanya, ikuti saja. Tak harus menjadi selebritas di setiap kanal. Setidaknya tahu benda apakah itu yang sedang digandrungi murid. Kalau bisa ikut ‘gaul’ di sana, lebih baik lagi. Memberi kesan bahwa guru terbuka sehingga mengurangi kesungkanan murid.

Dengan tahu banyak, murid juga merasa yakin bahwa gurunya tak ketinggalan jaman dan menjaga kekinian informasi yang diterimanya. Pastinya, tak sekadar kesan, harus dipastikan bahwa guru juga senantiasa menjaga kebaruan ilmu yang dimiliki.
Continue reading…

Kelas di Kolong Internet

Saingan utama guru saat ini

Di zaman teknologi (tengah) maju saat ini, bukan hal yang mengejutkan jika tantangan terbesar guru setelah minat belajar anak adalah teknologi itu sendiri. Dalam bentuk Blackberry, iPhone, smartphone, komputer jinjing, atau telepon genggam ‘biasa’, barang-barang ini menjadi saingan saya berebut perhatian anak didik.

Satu-dua minggu pertama di awal semester, saya masih bersabar untuk menegur murid(-murid) yang perhatiannya teralih oleh gadget. Tak tanggung-tanggung, tangan sibuk mengetik di perangkat yang terletak di meja. Walau tak jarang juga murid berlaku dengan lebih ‘sopan’: kepala dan mata tetap menatap lurus ke depan, tapi tatapannya kosong karena jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu.

Tak hanya perhatian anak yang teralih, konsentrasi saya juga terganggu. Bagaimana tidak, di kepala saya jadi muncul pertanyaan “Dia sedang Facebook-an kali, ya?” atau “Jangan-jangan lagi ngerumpiin saya di messenger?”, ketimbang mengolah kata agar materi kimia yang sudah tergolong sulit ini lebih mudah dikunyah oleh murid.

Jawaban atas kebosanan

Lama-lama, kok bosan juga, ya. Setiap masuk kelas, yang terjadwal 4 hari dalam seminggu untuk setiap kelas, harus menegur “Nak, masukkan HP, Blackberry, apapun itu, ke tas. Jangan letakkan di meja”. Saya yakin sebagian anak juga mulai bosan, karena itu saya harus memikirkan cara lain agar kebosanan tidak membuat saya jadi kesal & marah-marah.

Blog. Mengapa tidak? Bermula dari sekadar tempat penitipan dokumen supaya mudah diakses (saya dan murid), akhirnya blog mengajar saya isinya jadi agak gado-gado sekarang. Temanya tetap sama: kelas dan kimia. Penamaan dan tema saya usahakan sesuai dengan ‘rasa’ kelas dan kimia. Quick, it’s chemistry!

Tagline blog ini terkadang juga menjadi celetukan murid di kelas, hampir seperti sapaan ketika saya masuk kelas setelah memberikan tugas atau akan mengadakan quiz. “It’s ms. Lita! Quick, it’s chemistry!”, celetuk anak-anak. Lucu juga. Saya sih senang saja.
Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya