Saingan utama guru saat ini
Di zaman teknologi (tengah) maju saat ini, bukan hal yang mengejutkan jika tantangan terbesar guru setelah minat belajar anak adalah teknologi itu sendiri. Dalam bentuk Blackberry, iPhone, smartphone, komputer jinjing, atau telepon genggam ‘biasa’, barang-barang ini menjadi saingan saya berebut perhatian anak didik.
Satu-dua minggu pertama di awal semester, saya masih bersabar untuk menegur murid(-murid) yang perhatiannya teralih oleh gadget. Tak tanggung-tanggung, tangan sibuk mengetik di perangkat yang terletak di meja. Walau tak jarang juga murid berlaku dengan lebih ‘sopan’: kepala dan mata tetap menatap lurus ke depan, tapi tatapannya kosong karena jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu.
Tak hanya perhatian anak yang teralih, konsentrasi saya juga terganggu. Bagaimana tidak, di kepala saya jadi muncul pertanyaan “Dia sedang Facebook-an kali, ya?” atau “Jangan-jangan lagi ngerumpiin saya di messenger?”, ketimbang mengolah kata agar materi kimia yang sudah tergolong sulit ini lebih mudah dikunyah oleh murid.
Jawaban atas kebosanan
Lama-lama, kok bosan juga, ya. Setiap masuk kelas, yang terjadwal 4 hari dalam seminggu untuk setiap kelas, harus menegur “Nak, masukkan HP, Blackberry, apapun itu, ke tas. Jangan letakkan di meja”. Saya yakin sebagian anak juga mulai bosan, karena itu saya harus memikirkan cara lain agar kebosanan tidak membuat saya jadi kesal & marah-marah.
Blog. Mengapa tidak? Bermula dari sekadar tempat penitipan dokumen supaya mudah diakses (saya dan murid), akhirnya blog mengajar saya isinya jadi agak gado-gado sekarang. Temanya tetap sama: kelas dan kimia. Penamaan dan tema saya usahakan sesuai dengan ‘rasa’ kelas dan kimia. Quick, it’s chemistry!
Tagline blog ini terkadang juga menjadi celetukan murid di kelas, hampir seperti sapaan ketika saya masuk kelas setelah memberikan tugas atau akan mengadakan quiz. “It’s ms. Lita! Quick, it’s chemistry!”, celetuk anak-anak. Lucu juga. Saya sih senang saja.
Continue reading…